Contoh ritual pusaka di bulan suro

loading...

Contoh ritual pusaka di bulan suroContoh ritual pusaka paling hebat, paling bagus di bulan suro– Pada beberapa keluarga Jawa ini, biasanya memiliki warisan keris dari leluhurnya. Itu ada isi nya atau tak ada isinya mereka tidak peduli, yang penting pusaka itu warisan dari leluhur mereka pasti selalu di jaga dan di rawat dengan baik. Terkadang tanggapan dari mereka sebagai sang pewaris terhadap keris warisan tersebut berbeda-beda. Ada yang bisa merawatnya dengan baik, dan ada pul ayang cuek sama sekali terhadap keris tersebut. Biasanya keluarga yang cuek terhadap keris warisan tidak mau dianggap mistis atau percaya tahyul, jadi mereka memilih cuek.
Bagi saya keris itu merupakan benda budaya yang mesti dirawat seperti hal orang modern merawat kendaraan pribadi seperti mobil atau motor. Begitu pula dengan keris, harus rajin dibersihkan dan dirawat supaya tetap terjaga keawetannya. Menurut adat Jawa, keris atau benda pusaka lainnya dibersihkan pada bulan Suro sesuai dengan penanggalan Jawa, karena bulan itu merupakan bulan baik.
Dibawah ini merupakan cara yang relatif untuk membersihkan keris sendiri. Sebetulnya kita atau keluarga sendiri bisa mencucinya dari pada memanggil orang lain. Selain lebih ekonomis, kita sebagai pewaris bisa lebih mengenal warisan leluhur.

A. ALAT YANG DIBUTUHKAN:
Sedia bambu besar satu ruas, kemudian dipotong tengah hampir separo lingkaran, kemuidan diberi kaki. Wadah ini untuk diisi bahan pencuci pusaka.
Sedia kuas kecil dari bahan yang kaku tetapi tidak terlalu tajam, untuk membersihkan pamor pusaka.
Sedia kuas kecil yang lembut untuk mengoles warangan dan minyak zaitun.
Sedia lap kering yang bersih.

B. BAHAN UNTUK MEMBERSIHKAN
1. Buah Pace yang matang ± 4 s/s 5 butir
2. Jeruk pecel matang ± 4 s/d 5 buah.
3. Warangan/ cyanida.
4. Air bersih secukupnya.

Caranya:
Buah Pace setelah dicuci bersih, dipenyet-penyet, dimasukkan kedalam wadah bamboo. Demikian pula buah jeruk pecel yang sudah dikupas kulit luarnya, dibelah-belah kemudian dicampurkan ke wadah tadi sambil diperas-peras. Selanjutnya, setelah diberi sedikit bubuk warangan, barulah ditambahkan air secukupnya. Ambil pusaka lalu bersihkan dengan bahan yang ada di wadah bambu sambil digosok-gosok atau disikat pakai kuas yang kaku. Setelah itu diguyur dengan air yang mengalir, terakhir dijemur terik matahari. Apabila terlalu terik, silahkan diteduhkan sambil diangin-anginkan. Apabila sudah bersih, ”pamor” dari pusaka tersebut akan muncul dengan jelas atau indah.

C. BAHAN UNTUK MENGOLES
1. Air jeruk pecel + warangan (cyanida)
Setelah bubuk warangan dicampur dengan perasan air jeruk pecel pada wadah tersendiri, silahkan oleskan pada pusaka yang telah kering satu persatu. Setelah itu diguyur air kran kemudian jemur kembali sampai kering.
2. Minyak zaitun
Setelah kering, oleskan minyak zaitun dengan kuas yang lembut seperti pada keris.

III. BAHAN UNTUK SYARAT/ WAJIB (UGORAMPE)
Kembang/ menyan/ rokok klobot/ kinangan
Tukon pasar (buah-buahan, salak, duku, srikaya, dll.)
Tumpengan (nasi putih dan gudangan)
Telur mateng 1 butir dibelah 4
Telur mentah 1 butir
Kopi pahit, teh tubruk, rujak degan/ air putih
Ayam 1 ekor (hidup) cukup diikat kakinya untuk syarat

1 butir kelapa muda hijau
IV. RITUAL PADA SAAT MEMBERSIHKAN PUSAKA
Silahkan berdoa/ berdialog dengan Allah menurut agama masing-masing. Intinya minta ijin pada Sang Maha Pencipta Alam dan Seisinya, kelihatan maupun tidak kelihatan, untuk membersihkan ciptaanNya, agar kita selalu mengenang kebesaran leluhur kita, dengan cara kita merawat dengan baik peninggalan leluhur kita.

Bagi mahluk yang diridhoi oleh Allah untuk menempati pusaka-pusaka tersebut, sesuai dengan kepentingan dan tugas masing-masing, silahkan anda meninggalkan tempat masing-masing sebab pusaka-pusaka atau rumah-rumah ini akan kami bersihkan.

kami telah melaksanakan kewajiban kami sebagai pewaris, silahkan anda semua kembali ketemapat semula, dan siap setiap saat melaksanakan kewajiban anda sesuai kesepakatan dengan leluhur kami.
Jangan lupa pada saat kita berdoa, untuk menutup ritual tersebut, kita juga harus membakar kemenyan atau dupa wangi untuk menimbulkan suasana magis dan religius

Biasanya, ritual semacam ini dilakukan dengan cara lelaku, puasa mutih, nyepi atau puasa pati geni yang artinya puasa bicara, menghindari bertemu orang lain dan menghindari cahaya matahari. Bahkan, ada juga yang menjalani “tapa brata” di tempat keramat seperti makam orang sakti dan sebagainya.

Sedangkan bagi para kolektor benda pusaka, biasanya mereka mencuci pusakanya agar yoni pusaka maupun kekuatan magisnya tidak memudar, bahkan semakin bertambah aura kekuatannya.

Menurut Sugiman, satu di antara kolektor benda pusaka asal Sidoarjo, Jawa Timur, malam 1 Muharam, yang menjadi tahun baru umat Islam itu, bagi orang-orang Jawa diyakini sebagai malam keramat atau bulan keprihatinan.

“Dalam adat Jawa, malam 1 Suro atau 1 Muharram itu, identik dengan malam keramat, malam penuh kekuatan mistis. Kalau dalam ajaran Islam, 1 Muharam itu hari bagi umat Islam menjalani setengah kewajibannya untuk prihatin agar bisa menjadi lebih baik setelah tahun baru Hijriyah,” terang warga Tambak Sumur, Waru, Sidoarjo itu saat ditemui di kediamannya, Minggu (3/11).

Nah, lanjut dia, dalam ajaran ilmu Jawa, mereka diperintahkan untuk menjalani puasa. “Bagi orang-orang yang mempelajari ilmu kebatinan, malam 1 Suro merupakan hari untuk memperkuat ilmu atau kekuatannya agar tidak luntur. Termasuk meritualkan pusaka keramat,” katanya.

Pria yang mengaku mengoleksi ratusan lebih benda pusaka berbagai jenis dan kerap melakukan ritual sendiri pusaka-pusaka miliknya itu, juga mengatakan, sebenarnya kekuatan utama bulan Suro itu, bukan terletak pada 1 Muharram-nya, melainkan satu hari menjelang tahun baru Hijriyah tersebut.

“Kenapa tiap malam 1 Suro kebanyakan orang Jawa atau para kolektor pusaka selalu ‘ngumbah gaman’ miliknya? Karena seperti yang saya jelaskan tadi, bahwa 1 Muharram adalah malam penuh keramat, malam penuh dengan kekuatan magis. Karena pusaka-pusaka itu juga dikeramatkan, makanya perlu dirituali di malam 1 Suro, agar kekuatan gaibnya bertambah,” ujarnya.

Sebelum 1 Suro, dia melanjutkan, para pencuci atau orang yang menerima jasa ‘ngumbah gaman’ kerap melakukan ritual khusus untuk menjaga yoni keris agar tidak pudar dan kekuatan magisnya tetap terjaga. “Tentu masing-masing orang punya cara berbeda-beda menjalani ritualnya. Tapi intinya sama, yaitu memperkuat atau menambah kekuatan pusaka.”

Sugiman yang akrab disapa Kang Giman oleh penduduk sekitar itu juga menceritakan proses ritual ‘ngumbah gaman’ yang biasa dia jalani.

Sebelum mencuci pusaka, dia melakukan puasa pati geni dalam ruang tertutup satu hari satu malam. Kemudian sebelum malam 1 Suro, dilakukan perendaman pusaka menggunakan bahan-bahan khusus untuk menghilangkan karat. Juga untuk menjaga pamor (corak) keris agar kembali muncul.

“Kemudian dilakukan pembersihan dan pewarangan untuk mengeluarkan kembali bentuk pamor. Selanjutnya dilakukan penjamasan di malam 1 Suro dengan ritual khusus untuk menyatukan kekuatan dari luar keris menyatu dengan kekuatan yang ada dalam keris itu sendiri,” ujarnya.

Contoh ritual pusaka di bulan suro