Misteri di bulan suro terhebat: percaya gak percaya 2016

loading...

gambar-misteri-di-bulan-suro-terhebat-percaya-gak-percaya-2016Misteri di bulan suro terhebat, tersakti: percaya gak percaya 2016– Bulan suro atau bulan muharram telah tiba. Seperti bulan Suro yang sudah memasyarakat sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. Bahkan kebanyakan mereka meyakininya sebagai prinsip dari agama Islam. Apakah memang benar hal ini disyariatkan atau justru dilarang oleh agama?
Maka simaklah kajian kali ini, dengan penuh tawadhu’ untuk senantiasa menerima kebenaran yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah sesuai yang telah dipahami oleh para sahabat Rasulullah ?.

gambar-misteri-di-bulan-suro-terhebat-percaya-gak-percaya-2016

Apa Dasar Mereka Menentukan Bulan Suro Sebagai Pantangan Untuk Hajatan?
Kebanyakan mereka sebatas ikut-ikutan (mengekor) sesuai tradisi yang biasa berjalan di suatu tempat. Ketika ditanyakan kepada mereka, “Mengapa anda berkeyakinan seperti ini ?” Niscaya mereka akan menjawab bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu atau sesepuh yang terus menerus diwariskan kepada generasi setelahnya. Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim nurut saja dengan “apa kata orang tua”, demikianlah kenyataannya.

Para pembaca sekalian, dalil “apa kata orang tua”, bukanlah jawaban ilmiah yang pantas dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi permasalahan ini menyangkut baik dan buruknya aqidah seseorang. Maka permasahan ini harus didudukkan dengan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah, benarkah atau justru dilarang oleh agama?
Sikap selalu mengekor dengan apa kata orang tua dan tidak memperdulikan dalil-dalil syar’i, merupakan perbuatan yang tercela. Karena sikap ini menyerupai sikap orang-orang Quraisy ketika diseru oleh Rasulullah ? untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa kata mereka? (artinya): “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Az Zukhruf: 22)

Jawaban seperti ini juga mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Ibrahim ? ketika mereka diseru untuk meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. “Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala, pen).” (Asy Syu’ara’: 74)

Demikian juga Fir’aun dan kaumnya, mengapa mereka ditenggelamkan di lautan? Ya, mereka enggan untuk menerima seruan Nabiyullah Musa, mereka mengatakan: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya …” (Yunus: 78)

Kaum ‘Aad yang telah Allah ? binasakan juga mengatakan sama. Ketika Nabi Hud ? menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan kesyirikan, mereka mengatakan: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?” (Al A’raf: 70)

Lihatlah, wahai pembaca sekalian, mereka menjadikan perbuatan yang dilakukan oleh para pendahulu mereka sebagai dasar dan alasan untuk beramal, padahal telah nampak bukti-bukti kebatilan yang ada pada mereka. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al Baqarah: 170)

Agama Islam yang datang sebagai petunjuk dan rahmat bagi semesta alam, telah mengajarkan kepada umatnya agar mereka senantiasa mengikuti dan mengamalkan agama ini di atas bimbingan Allah ? dan Rasul-Nya ?. Allah berfirman (artinya):
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (Al A’raf: 3)

Sudah Ada Sejak Zaman Jahiliyyah
Mengapa sebagian kaum muslimin enggan untuk mengadakan hajatan (walimah, dan sebagainya) pada bulan Muharram atau bulan-bulan tertentu lainnya?

Karena mereka menganggap bahwa bulan-bulan tersebut bisa mendatangkan bencana atau musibah kepada orang yang berani mengadakan hajatan pada bulan tersebut, Subhanallah. Keyakinan seperti ini biasa disebut dengan Tathayyur (????????) atau Thiyarah (???????), yakni suatu anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu.

Misalnya seseorang hendak pergi berjualan, namun di tengah jalan dia melihat kecelakaan, akhirnya orang tadi tidak jadi meneruskan perjalanannya karena menganggap kejadian yang dilihatnya itu akan membawa kerugian dalam usahanya. Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathayyur ini dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Setelah Islam datang, keyakinan ini dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang untuk memurnikan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah dan membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Nya.
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al A’raf: 131)

Apa itu bulan suro atau bulan muharram 

Suro atau juga ditulis dengan Sura adalah bulan pertama dalam
penanggalan jawa. Sebuah sistem kalender yang diperkenalkan oleh Mataram
Islam. Tepatnya oleh Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau yang
bernama Arab Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram.

Sebelum
Sultan Agung berkuasa, awalnya, hingga 1633 M masyarakat Jawa
menggunakan sistem penanggalan berdasarkan pergerakan Matahari.
Penanggalan Matahari dikenal sebagai Saka Hindu Jawa, meskipun konsep
tahun Saka sendiri bermula dari sebuah kerajaan di India.

Tahun
Saka Hindu 1555, bertepatan dengan tahun 1933 M, saat itu Sultan Agung
mengganti konsep dasar sistem penanggalan Matahari menjadi sistem Bulan.
Perubahan sistem penanggalan dapat dibaca dalam buku “Primbon Adji Çaka
Manak Pawukon 1000 Taun” yang ditulis dalam bahasa Jawa.

Dari naskah
tersebut diketahui bahwa Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo mengubah
sistem penanggalan yang digunakan, dari sistem syamsiyah (Matahari)
menjadi qamariyah (Bulan). Perubahan penanggalan berlaku untuk seluruh
Pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, karena tidak termasuk daerah
Mataram.

Perubahan sistem penanggalan dilakukan hari Jumat Legi,
saat pergantian tahun baru Saka 1555 yang ketika itu bertepatan dengan
tahun baru Hijriah tanggal 1 Muharam 1043 H dan 08 Juli 1633M.
Pergantian sistem penanggalan tidak mengganti hitungan tahun Saka 1555
yang sedang berjalan menjadi tahun 1, melainkan meneruskannya. Hitungan
tahun tersebut berlangsung hingga saat ini. Maka dari itu wajar jika
bulan dalam kalender Jawa bersamaan dengan kalender Hijriyah secara
global.

Asal Kata Suro

Banyak orang salah sangka tentang asal muasal kata suro. Beberapa kalangan mengira
bahwa asal kata suro berasal dari bahasa Arab dengan pengejaan yang sama
yaitu “syuro” yang berarti musyawarah. Ada juga sebagian yang
berpendapat bahwa kata suro memang berasal dari bahasa Jawa suro yang
berarti berani. Tapi jawaban tersahih atas hal ini adalah bahwa kata
suro dalam bulan suro berasal dari bahasa Arab yaitu asyuro yang berarti
hari kesepuluh. Hari kesepuluh bulan Muharram dalam Islam memiliki arti
yang sangat penting terutama karena ada khabar dari Nabi Muhammad SAW
yang menyebutkan atasnya. Terutama tentang kisah diselamatkan Musa AS
beserta kaumnya dari kejaran Fir’aun. Hari itu adalah hari asyuro. Atas
hal itu jugalah kemudian Musa dan umat Yahudi melakukan puasa atasnya.
Kemulian asyuro juga bisa terbaca dari hadist nabi:

Aku mendengar
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Hari ini adalah hari
‘asyura. Allah tidak mewajibkan atas kalian berpuasa padanya, tetapi Aku
berpuasa, maka barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah. Dan
barang siapa yang ingin berbuka (tidak berpuasa) maka berbukalah.

Suro; Jawa, Yahudi, Syiah dan Sunni

Tradisi
merayakan Suro di Jawa biasanya dilakukan dengan beberapa cara. Keraton
Yogyakarta dan Surakarta biasanya melakukan Kirab Suro. Kirab ini
dilakukan setelah dilakukan jamasan (memandikan) benda pusaka pada malam
harinya. Kirab ini biasanya dilakukan dengan cara berkeliling kota
sebelum kemudian ditaruh kembali ke tempat benda pusaka disimpan.
Sedangkan rakyat kecil biasanya melakukan mandi beramai-ramai dengan
cara mendatangi pantai, sungai atau danau kecil. Biasanya dilakukan
menjelang atau sesudah mengadakan selametan atau bancaan di tepi pantai,
sungai atau danau kecil yang akan dibuat mandi. Hal ini dilakukan
sebagai simbol penyucian diri dari segala dosa dengan harapan dosa yang
melekat di badan bisa ikut luntur saat air disiramkan ke tubuh. Walau
ditenggarai bahwa tradisi mandi suro ini adalah warisan budaya hindu
yang pernah melekat pada masyarakat Jawa akan tetapi tetap bisa diterima
dengan modifikasi niat dan tata cara yang disesuaikan dengan ajaran
Islam.

Sedangkan para raja atau pembesar Jawa biasanya
melanjutkan dengan puasa hingga hari ke sepuluh dari Bulan Suro. Budaya
ini konon diwarisi dari para raja terdahulu yang meminpin keraton di
daerah mataraman.

Akan tetapi tradisi Asyuro di dunia biasanya
identik dengan kaum Syiah. Pada hari Asyuro umat Syiah akan melakukan
pawai atau melakukan ziarah secara massal ke makam imam-imam atau tokoh
yang mereka keramatkan. Selain itu mereka juga mempunyai tradisi
menyakiti dirinya sendiri dengan cemeti atau benda lainnya sebagai tanda
bersedih atas terbunuhnya Sayyidina Husein pada tanggal sepuluh Suro
atau Muharram lebih dari 1400 tahun yang lalu oleh tentara Yazid bin
Mu’awiyah karena alasan kekuasaan.

Sedangkan umat Sunni kecuali
yang bermadhab Wahabi memperingati hari ke sepuluh dari bulan Muharram
tersebut karena ada perintah Nabi Muhammad lewat hadis yang diriwayatkan
oleh Imam Bukhari, seorang imam terbesar dalam khazanah periwayatan
hadis dalam dunia Islam.

Salah satu hadist tersebut ialah hadist dari Ibnu Abbas yang berkata, “Nabi
datang ke Madinah dan ketika orang Yahudi berpuasa pada hari Asyuro
mereka berkata hari ini adalah hari dimana Musa bebas dari Fir’aun. Maka
Nabi berkata kepada para sahabatnya, kalian lebih berhak terhadap Musa
daripada mereka, maka dari itu berpuasalah!”

Hadis ini
adalah sebagai salah satu landasan bagi peringatan Asyuro yang diadakan
oleh umat Muslim Sunni di seluruh dunia. Sebagian Muslim Jawa biasanya
menambahkan dengan bubur Sura yaitu bubur ketan putih dengan gula merah
di atasnya.

Hadis di atas juga menandaskan bahwa hari Asyuro
telah dirayakan sejak sebelum Islam datang yaitu dirayakan oleh orang
Yahudi, para pengikut Nabi Musa.

Jika Yerussalem (Bait al-salam)
disucikan oleh umat Yahudi, umat Kristiani dan umat Islam. Maka hari
Asyuro disucikan oleh umat Yahudi, muslim syiah dan muslim sunni. Wallahu a’lam.

Asal Mula Nama Suro
Orang Jawa menyebut Bulan Muharram dengan “Sasi Suro” yang diambil dari kata ‘Asyura (tanggal 10 Muharram). Dalam Tarikh Islam (Sejarah Islam) pada tanggal tersebut terdapat peristiwa-peristiwa besar yang dialami oleh para Nabiyullah. Mulai dari diturunkannya Nabi Adam as dan Ibu Hawa ke bumi, Nabi Ibrahim as selamat dari panasnya api, kisah Nabi Nuh as dengan kapalnya, Nabi Yusuf as dibuang ke dalam sumur, dan lain sebagainya.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, akantetapi bukti menunjukkan bahwa Orang Jawa, baik yang muslim maupun kebathinan (kejawen) dan bahkan yang bukan diantaranya mengakui Bulan Muharram sebagai bulan yang istimewa.

Kenyataan ini nampak dengan banyaknya Orang Jawa yang melakukan rutinitas khusus, sering disebutnya ritual. Berbagai ritual dilakukan mulai malam 1 Suro hingga malam 10 Suro. Ada yang dengan mandi kembang, mandi 7 tempuran, berendam semalam, bakar kemenyan, sesajen, poso mutih, dan sebagainya.

Pertanyaannya : Adakah ritual-ritual Bulan Suro dalam Islam? Jawabnya ADA.
Ritual dalam islam disebut amalan dari kata ‘Amal yang berarti perbuatan. Dengan kata lain ritual/amalan adalah suatu perbuatan yang dimaksudkan untuk memperoleh suatu hasil. Sesuai penjabaran tersebut, ritual/amalan dapat juga disebut Ikhtiyar.

Seperti apakah ritual/amalan yang dibenarkan dalam Islam?

Ada 10 hal yang dapat kita lakukan berdasarkan Hadits Nabi :

1. Ziarah Kubur ke makam para alim ulama dan silaturahmi ke rumah para alim ulama.
Ini telah menjadi tradisi di berbagai daerah mengadakan rombongan ziarah kubur ke makam para wali. Dan menyempatkan bersilaturahmi ke pengasuh-pengasuh pondok pesantren maupun ulama-ulama.

2. Mandi Jamas
Adalah mandi yang dilakukan pada malam 1 Muharram. Caranya sebagaimana mandi besar (junub), lebih utama dengan air dari mata air langsung. Keutamaannya Insyaallah akan menjernihkan pikiran.

3. Membaca Surat Ikhlas
Dilaksanakan mulai malam 1 sampai malam 10 Muharram sebanyak 313 kali tiap malamnya.

4. Membaca Ayat Kursi
Ayat Kursi paling utama dibaca 1.000 kali. Namun jika tidak mampu 700, 313, 111, 77, 47, 27, 21, 11, 7, atau 3 kali setiap malamnya. Waktunya setelah membaca Surat Ikhlas.

5. Membaca do’a akhir tahun dan awal tahun.
Do’a akhir dilakukan bagda Sholat Asyar sebelum matahari terbenam ( + jam 5 sore) dan do’a awal tahun bagda Sholat Maghrib (setelah matahari terbenam)

6. Membaca Surat Yasin
Dilaksanakan bagda Sholat Maghrib sebanyak 3 kali dan selesai sebelum waktu Sholat Isya’. Adapun yang tidak mampu membaca dapat dengan membaca Istighfar sebanyak-banyaknya.
a. Setelah selesai membaca Surat Yasin yang pertama kemudian membaca do’a “Yaa Allah berikanlah ketetapan Iman Islam dan menjadi bagian dari Ahlussunah Wal Jama’ah. Amin..”
b. Setelah selesai membaca Surat Yasin yang kedua kemudian membaca do’a “Yaa Allah ampunilah dosa-dosa hamba di dunia dan akherat secara lahir dan batin, dan atas dosa-dosa kedua orangtua serta umat islam semua. Amin..”
c. Setelah selesai membaca Surat Yasin yang ketiga kemudian membaca do’a “Yaa Allah berikanlah hamba umur panjang yang bermanfaat, kelimpahan rejeki yang baik dan halal, dan kelak meninggal dengan khusnul khotimah, tenteram nyaman dan selamat dunia akherat. Amin..”

7. Menyelesaikan pertikaian dengan kerukunan dan perdamaian.
Dalam hal ini dimaksudkan, jika kita memiliki lawan atau musuh hendaknya segera mengakhiri permusuhan tersebut dengan kerukunan dan perdamaian. Paling mulia dan utama adalah yang bersedia mendahului perdamaian tersebut.

8. Puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram
Puasa tanggal 9 (tasyura’) dan 10 (asy-syura’) memiliki keutamaan dapat melebur dosanya selamanya selama 1 tahun
9. Menyantuni anak yatim
Tradisi Jawa pada umumnya, setiap tanggal 1 atau 10 Suro (Muharram) dengan diadakannya “usap-usap bocah yatim”. Dalam syari’at islam dimaknakan menyantuni anak yatim, memberikan kasih sayang dan memuliakan anak yatim.

10. Memperlakukan suami dengan istimewa
Dalam hubungan kekeluargaan tidak jarang istri telah mengabdikan diri dengan sebaik-baiknya kepada suaminya. Namun memberikan kemuliaan kepada seorang istri yang memperlakukan istimewa suaminya pada tanggal 1 sampai 10 Muharram dengan menjadikannya Ahlul Jannah.

KESIMPULAN :
Marilah kita sambut Tahun Baru 1433 Hijriyah ini dengan cara-cara yang diajarkan dalam Syari’at Islam dan tidak dengan cara yang tidak dibenarkan dalam Syari’at Islam. Dengan demikian kita dapat menjadikan Keluarga Sakinah Mawadah Warahmah. Amin..

Itulah beberapa artikel tentang –Misteri di bulan suro terhebat: percaya gak percaya 2016. Semoga bisa menjadi contoh yang positif.

Misteri di bulan suro terhebat: percaya gak percaya 2016